YM jillorens@ymail.com

SKRIPSI TEKHNIK MESIN

BAB I


PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang


Perkembangan zaman yang disertai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang pesat dewasa ini menciptakan era globalisasi dan keterbukaan yang menuntut setiap individu untuk ikut serta didalamnya, sehingga sumber daya manusia harus menguasai IPTEK serta mampu mengaplikasikannya dalam setiap kehidupan.


Pengelasan merupakan bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan peningkatan industri karena memegang peranan utama dalam rekayasa dan reparasi produksi logam. Hampir tidak mungkin pembangunan suatu pabrik tanpa melibatkan unsur pengelasan.


Pada area industrialisasi dewasa ini teknik pengelasan telah banyak dipergunakan secara luas pada penyambungan batang-batang pada konstruksi bangunan baja dan konstruksi mesin. Luasnya pengguanaan teknologi ini disebabkan karena bangunan dan mesin yang dibuat dengan teknik penyambungan menjadi ringan dan lebih sederhana dalam proses pembuatanya.


Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam bidang konstruksi sangat luas, meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, pipa saluran dan lain sebagainya. Di samping itu proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran, membuat lapisan keras pada perkakas, mempertebal bagian-bagian yang sudah aus dan lain-lain. Pengelasan bukan tujuan utama dari konstruksi, tetapi merupakan sarana untuk mencapai pembuatan yang lebih baik. Karena itu rancangan las harus betul-betul memperhatikan kesesuaian antara sifat-sifat las yaitu kekuatan dari sambungan dan memperhatikan sambungan yang akan dilas, sehingga hasil dari pengelasan sesuai dengan yang diharapkan.


Dalam memilih proses pengelasan harus dititik beratkan pada proses yang paling sesuai untuk tiap-tiap sambungan las yang ada pada konstruksi. Dalam hal ini dasarnya adalah efisiensi yang tinggi, biaya yang murah, penghematan tenaga dan penghematan energi sejauh mungkin.


Mutu dari hasil pengelasan di samping tergantung dari pengerjaan lasnya sendiri dan juga sangat tergantung dari persiapan sebelum pelaksanaan pengelasan, karena pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan menggunakan energi panas. Pada penelitian ini pengelasan yang digunakan las listrik dan asetilin. Hal ini sangat erat hubungannya dengan arus listrik, ketangguhan, cacat las, serta retak yang pada umumnya mempunyai pengaruh yang fatal terhadap keamanan dari konstruksi yang dilas.


Maka dari itu untuk mengusahakan terhadap hasil pengelasan yang baik dan berkualitas maka perlu memperhatikan sifat-sifat bahan yang akan dilas. Untuk itu penelitian tentang pengelasan sangat mendukung dalam rangka memperoleh hasil pengelasan yang baik. Terwujudnya standar-standar yang teknik pengelasannya akan membantu memperluas lingkup pemakaian sambungan las dan memperbesar ukuran bangunan konstruksi yang akan dilas.


Untuk dapat mengetahui pengaruh hasil pengelasan las listrik dan asitilin pada pelat baja terhadap uji kekerasan, struktur mikro dan uji tarik dari pengelasan maka perlu dilakukan pengujian terhadap benda uji hasil dari pengelasan.



1.2. Rumusan Masalah


Bertolak dari latar belakang maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu :



  1. Bagaimanakah sifat fisis dan mekanis yang dimiliki pelat baja St 37 setelah dilas dengan menggunakan las listrik dan setilin.

  2. Adakah pengaruh pengelasan dengan menggunakan las listrik dan asetilin terhadap kekuatan tarik, kekerasan, metalografi pada benda kerja, daerah HAZ, dan logam induk.



1.3. Batasan Masalah


Agar dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini lebih mengarah ke tujuan penelitian dengan membatasi pokok permasalahan sebagai berikut :



  1. Bahan yang digunakan adalah pelat baja St 37.

  2. Pengelasan yang dilakukan adalah pengelasan listrik dengan elektoda terbungkus RD 260.

  3. Pengelasan asitilin menggunakan kawat penambah sebagai umpan pengelasan.

  4. Arus listrik yang digunakan dalam proses pengelasan listrik yaitu 110 Ampere.

  5. Kampuh yang digunakan adalah V tunggal 600.

  6. Pengujian yang dilakukan adalah sifat fisik dan mekanik.


- Sifat mekanik meliputi : pengujian tarik, pengujian kekerasan dengan metode Rockwell


- Sifat fisis meliputi : pengujian struktur mikro dengan pembesaran 200×



1.4. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hasil pengelasan dengan las listrik dan asitilin terhadap kekuatan tarik, kekerasan dan struktur mikro pada pelat baja St 37.



1.5. Manfaat Penelitian



  1. Untuk mengetahui nilai hasil tarik, kekerasan dan struktur mikro yang terjadi pada proses penyambungan setelah proses pengelasan listrik dan pengelasan asetilin.

  2. Membandingkan hasil pengelasan dengan cara mengetahui pengaruh hasil pengelasan listrik dan asetilin terhadap kekuatan tarik, kekerasan dan struktur mikro pada pelat baja St 37.

  3. Dari data-data ini dapat menjadi refrensi bagi peneliti selanjutnya tentang pengelasan listrik dan asetilin.


UNTUK MENDAPATKAN SKRPSI KOMPLIT SILAHKAN KLIK DI SINI

SKRIPSI FISIKA

BAB I


PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang


Fisika merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam yang sangat dekat dengan eksperimental. Dalam pengajaran fisika baik di Sekolah Menengah maupun aras Perguruan Tinggi, eksperimen atau percobaan merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. Khusus untuk percobaan Fisika modern, penggunaan alat-alat sederhana masih terbatas. Untuk itu perlu dicari alternatif-alternatif baru dalam pemanfaatan alat-alat yang ada untuk percobaan Fisika. Salah satunya adalah pemanfaatan CCD (Charge Coupled Device) dari kamera digital komersial untuk berbagai percobaan optika fisis.


CCD sebagai detektor atau sensor dapat mendeteksi spektrum yang mempunyai panjang gelombang 305 sampai 1000 nm secara langsung dengan SITe (Scientific Imaging Technologies). CCD berfungsi untuk menerima cahaya yang difokuskan oleh lensa. Cahaya itu membentuk citra pada sensor tersebut. Sensor pada CCD terdiri dari array dua dimensi dari beribu-ribu detektor mikro yang disebut pixel. Ukuran sensor dapat mencapai 21 x 21 mikron dan dapat membentuk array dengan ukuran lebih dari 1024 x 1024 pixels.


CCD telah dipakai sebagai sensor perekaman citra pada kamera digital komersial. CCD ini menggantikan film pada kamera konvensional. Keunggulan kamera digital dengan teknologi chip CCD adalah respons foton linier hingga mencapai saturasi, efisiensi kuantum yang tinggi (mencapai 50% hingga 80%) rentang sensitivitas lebar, mulai dari ultra violet hingga infra merah sangat dekat, gambar dapat ditampilkan langsung tanpa melalui proses kimia seperti pada kamera konvensional, lebih mudah dioperasikan dengan komputer, mudah diproses untuk memisahkan sinyal dari derau dan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan memproses citra yang telah direkam lebih lanjut.


Berdasarkan uraian di atas, prospek pemanfaatan CCD dari kamera digital sebagai sensor dalam percobaan Fisika terutama di bidang optika fisis dapat dilakukan. Penelitian ini akan memanfaatkan CCD dari kamera digital komersial sebagai sensor untuk perekaman citra pola interferensi.



1.2. Perumusan Masalah


1. Bagaimana karakteristik kamera digital komersial ?


2. Bagaimana memanfaatkan kamera digital komersial sebagai sensor pada berbagai percobaan optika fisis?


3. Bagaimana membuat petunjuk pratikum pemanfaatan kamera digital komersial untuk percobaan optika fisis?



1.3. Tujuan


1. Menemukan karakteristik dari kamera digital komersial.


2. Memanfaatkan kamera digital untuk perekaman citra pola interferensi berkas laser.


3. Merancang petunjuk praktikum pemanfaatan kamera digital sebagai sensor pada percobaan optika fisis.



1.4. Manfaat


1. Memanfaatkan kamera digital komersial untuk percobaan optika di laboratorium Perguruan Tinggi dan Sekolah Menengah.


2. Memanfaatkan sensor-sensor komersial yang murah untuk percobaan fisika yang berhubungan dengan pencitraan.


3. Memberikan alternatif-alternatif baru untuk mengukur parameter-parameter pada berbagai percobaan optika fisis.



1.5. Batasan Masalah


1. Kamera digital komersial yang digunakan adalah Canon PowerShot G5.


2. Pola interferensi dihasilkan oleh celah tunggal, celah ganda, dan celah berbentuk lingkaran.


3. Laser yang digunakan adalah Laser He-Ne dengan daya 3 mW dan λ = 632 nm.


4. Desain percobaan menggunakan sensor Charge Coupled Device (CCD) dari kamera digital komersial yaitu Canon PowerShot G5.



1.6 Metode dan Materi


1. Penelitian dilakukan dengan melakukan percobaan menggunakan kamera digital komersial sebagai media perekaman data.


2. Data akan dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan parameter pada pola interferensi yang dihasilkan. Program yang akan digunakan untuk membaca data adalah program Matlab 6.1.


UNTUK MENDAPATKAN SKRPSI KOMPLIT SILAHKAN KLIK DI SINI

SKRIPSI ARSITEKTUR

BAB I


PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang


Pembangunan perumahan dan permukiman dewasa ini menunjukkan perkembangan yang cukup besar, dimana hal tersebut merupakan salah satu solusi untuk memenuhi tingginya tingkat kebutuhan perumahan dan permukiman sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk terutama diperkotaan. Laju permintaan kebutuhan rumah secara nasional mencapai 800.000 unit per tahun, sementara kemampuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rumah sebesar 200.000 unit per tahun. Untuk menjawab ketidakseimbangan itu pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 menargetkan membangun rumah baru layak huni sebesar 1.350.000 unit, dimana untuk tahun 2007 pemerintah menargetkan mampu membangun 280.000 unit. Dilihat dari gambaran tersebut, tentunya diperlukan suatu tindakan bagi segenap organisasi yang bergerak dibidang perumahan untuk dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan perumahan. Kondisi lain yang terkait dengan pengembangan perumahan dan permukiman adalah ketersediaan lahan yang semakin sempit dengan harga lahan yang mahal, terutama di perkotaan. Kondisi ini menciptakan pilihan untuk membangun rumah susun dalam skala besar sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di perkotaan itu sendiri.


Tingginya tingkat kebutuhan perumahan baik berupa perumahan horisontal maupun rumah susun, yang mana merupakan bagian dari suatu wilayah yang tertata dengan sistimatis, terencana, memiliki fasilitas lengkap bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat, serta terintegrasi dengan rencana tata ruang dan rencana wilayah adalah merupakan peluang pasar yang cukup baik bagi pelaku bisnis perumahan, namun memerlukan sumber daya lahan dan dana yang cukup besar. Disisi lain persediaan lahan dan dana yang dimiliki pengusaha dibidang perumahan terbatas, sehingga mempengaruhi daya serap terhadap peluang pasar perumahan.


Konsumen perumahan terdiri dari dua kelompok yaitu masyarakat berpenghasilan menengah ke atas dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke atas, kepentingan bagi masyarakat ini adalah cenderung kepada kondisi perumahan yang memiliki fasilitas yang lengkap dan kemudahan akses menuju pusat kegiatannya, sehingga jenis perumahan 2


yang dipilih pada umumnya adalah perumahan menengah dan perumahan mewah yang telah dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang memadahi seperti pengerasan jalan,



open space berikut tamannya, fasilitas olah raga, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Harga yang ditawarkan oleh pengembang cenderung menjadi pilihan yang kedua karena tingkat pendapatan yang diperoleh masyarakat ini telah mencukupi untuk penyediaan perumahannya. Sedangkan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, kepentingan yang utama adalah keterjangkauan terhadap harga rumah yang ditawarkan oleh pengembang, sehingga jenis perumahan yang menjadi pilihannya adalah jenis rumah sederhana dengan harga murah yang umumnya memiliki fasilitas yang minim. Melihat situasi konsumen tersebut, pengembang dalam menjalankan usahanya lebih mementingkan penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke atas dari pada penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, karena terkait dengan keamanan dan keuntungan yang lebih baik dalam berinvestasi.


Pemerintah selaku penyelenggara penyediaan perumahan bagi masyarakat terutama masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, telah menerbitkan undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur tentang peluang kerja sama, pemberian subsidi dan pembebasan PPn, dengan maksud untuk lebih menarik minat para pengembang agar mau mengembangkan perumahan dan permukiman bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, sehingga dapat membantu percepatan tugas pemerintah dalam penyediaan perumahan bagi masyarakat, serta dapat membantu masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dari sisi keterjangkauan daya beli.


Dengan melihat kondisi tersebut diatas maka perlu dibangun suatu sistem yang dapat memberikan kemungkinan dapat memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan penyediaan perumahan. Salah satu solusi tersebut adalah kerja sama antar berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta untuk pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman bagi masyarakat. Dengan pola kerja sama akan diperoleh banyak manfaat antara lain terpenuhinya kebutuhan perumahan, kebutuhan investasi dan tidak terganggunya modal kerja pengembang.


Dalam penulisan ini peneliti mencoba mengungkapkan bagaimana suatu kerja sama diterapkan pada pengembangan perumahan dan permukiman, sebagai masukan untuk mengidentifikasi pola bisnis yang dilakukankan oleh para pengembang. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi pengembang, terhadap 3


pengelolaan bisnis yang telah/sedang dijalankan, serta sebagai masukan kepada pengembangan dalam pengelolaan bisnis dimasa mendatang.


1.2. Rumusan Permasalahan


Sehubungan dengan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, menunjukkan adanya kebutuhan perumahan yang cukup besar. Salah satu cara pemenuhan kebutuhan perumahan dilakukan melalui kerja sama, karena diharapkan dapat mempercepat penyediaan perumahan terkait dengan keterbatasan pengembang terhadap persediaan lahan dan permodalan. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan kerja sama antara para pihak yang bergerak dibidang bisnis perumahan, maka perlu dilakukan identifikasi pelaksanaan kerja sama. Oleh karena itu, timbul keinginan bagi penulis untuk mengidentifikasi kegiatan kerja sama yang dijalankan oleh para pengusaha. Dalam melakukan identifikasi, peneliti perlu mengetahui beberapa hal antara lain :


1. Bagaimana pola kerja sama yang dilaksanakan oleh pengembang ?.


2. Bagaimana pola pengadaan lahan yang diterapkan oleh pengembang ?.


3. Bagaimana pola pendanaan/pembiayaan pembangunan perumahan ?.


4. Bagaimana pola pengelolaan pelaksanaan pembangunan perumahan ?


5. Bagaimana pola manajemen pemasaran perumahan ?.


Penyediaan perumahan melalui kerja sama dapat memberikan implikasi-implikasi kepada pihak-pihak yang bekerja sama antara lain: dapat meringankan beban tanggung jawab pelaksanaan pekerjaan, permodalan, memikul risiko dan mendapatkan keuntungan, terjadinya implikasi-implikasi tersebut karena adanya pembagian peran dalam menangani kegiatan kerja sama seperti sharing penanganan pekerjaan, sharing modal, sharing risiko dan sharing keuntungan yang diperoleh. Bagaimana dan sejauh mana sharing tersebut diporsikan kepada para pihak akan dibahas pada penelitian ini.


Dalam pelaksanaan kerja sama antara dua pihak atau lebih, biasa terjadi salah satu pihak mendominasi pihak yang lain, baik dari sisi peranan kegiatan maupun pengambilan keputusan, hal ini disebabkan perbedaan kedudukan pihak yang satu dengan pihak yang lain, perbedaan kedudukan diakibatkan oleh perbedaan posisi tawar dalam perjanjian. Untuk mengetahui bagaimana dan sejauh mana terjadinya dominasi tersebut perlu dilakukan identifikasi terhadap aspek-aspek yang menimbulkan terjadinya dominasi 4


antara lain aspek pembiayaan, manajemen pelaksanaan, pemasaran, pangadaan lahan dan lain-lain.


Pelaksanaan kerja sama diperlukan transparansi dan akuntabilitas, agar kerja sama dapat dilaksanakan tanpa kecurigaan dan perselisihan, yang dapat menghambat jalannya kerja sama untuk mencapai tujuan kerja sama tersebut, sehingga disini diperlukan antisipasi berbentuk aturan main untuk melaksanakan kegiatan yang dituangkan dalam perjanjian kerja sama dan kebijakan operasional kegiatan kerja sama.


Penyediaan perumahan melalui kerja sama dapat menimbulkan implikasi-implikasi bagi konsumen, salah satu implikasinya adalah ketidakterjangkauan konsumen untuk membeli produk perumahan yang dihasilkan, karena tingkat daya beli konsumen yang masih rendah. Bagaimana dan sejauh mana peran penyediaan perumahan melalui kerja sama dapat menjawab persoalan ini perlu pengkajian terhadap pelaksanaan kerja sama itu sendiri.


1.3. Tujuan Penelitian


Sehubungan dengan rumusan masalah tersebut diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk:


1. Mengidentifikasi pola kerja sama,


2. Mengidentifikasi pola pengadaan lahan,


3. Mengidentifikasi pola pendanaan/pembiayaan,


4. Mengidentifikasi pola pelaksanaan pembangunan, dan


5. Mengidentifikasi pola pemasaran/penjualan,


yang dilaksanakan oleh pengembang perumahan dan permukiman, baik Badan Usaha Milik Negara maupun perusahaan swasta.


1.4. Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang pengelolaan kerja sama, pengadaan lahan, pelaksanaan pembangunan, pendanaan, pembiayaan dan pemasaran dalam pengembangan perumahan dan permukiman.


Bagi para pengembang di Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran sebagai bahan perbandingan terhadap bisnis yang telah/sedang 5


berjalan dan sebagai masukan terhadap pengembangan pemula dalam pengelolaan bisnisnya, karena beberapa pertimbangan yang diuraikan dalam penelitian ini menyangkut permasalahan pembagian sharing dalam pengelolaan kerja sama.


Sedangkan bagi pemerintah diharapkan dapat memberikan masukan sebagai alternatif solusi untuk mengatasi penyediaan perumahan dan permukiman, terkait dengan keterbatasan yang ada pada pemerintah, maka dengan melakukan kerja sama akan memberikan kemudahan dari sisi pendanaan, pengelolaan pelaksanaan pembangunan sampai dengan pemasarannya.


1.5. Lingkup Penelitian


Penelitian ini adalah merupakan penelitian bisnis (business research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang dilakukan secara sistimatis untuk memberikan informasi yang efektif dan akurat sebagai landasan untuk mengambil keputusan tentang berbagai masalah bisnis di bidang perumahan dan permukiman.


Terdapat suatu indikasi bahwa pengembang dalam menjalankan bisnisnya mengalami kesulitan dalam pengadaan tanah, disisi yang lain pengembangan perumahan dan permukiman memerlukan dana yang cukup besar untuk pengembangan tanah dan pembangunan konstruksi perumahannya. Melihat situasi ini maka pengembang membutuhkan adanya kerja sama dengan pemilik tanah untuk kepentingan dalam menjalankan bisnisnya.


Dalam penelitian ini akan membahas tentang pelaksanaan kerja sama antara pemilik tanah dengan pengembang yang mencakup bentuk kerja sama, pengadaan lahan, manajemen pelaksanaan pembangunan, pembiayaan dan pemasaran/penjualan dalam pengembangan perumahan dan permukiman. Sehubungan dengan penekanan penelitian ini adalah pada kerja sama, maka penelitian ini tidak membahas tentang bagaimana cara pemilik tanah dalam memperoleh tanah dari masyarakat sebagai komponen yang akan kerjasamakan, dan tidak meninjau penjualan kafling tanah matang.


Peneliti menetapkan penelitian dilaksanakan terhadap perusahaan yang bergerak di bidang perumahan yaitu Perum Perumnas, PT Wijaya Karya Realty dan PT Masagi. Alasan dilakukan penelitian di Perum Perumnas dikarenakan perusahaan tersebut adalah merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibawah naungan Menteri Keuangan, dimana dalam kegiatannya sebagai penyedia perumahan dan permukiman, tidak 6


sepenuhnya berorientasi bisnis, jadi merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan akan perumahan bagi masyarakat terutama masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Sedangakan dilakukannya penelitian di PT Wijaya Karya Realty karena perusahaan tersebut adalah anak perusahaan dari PT Wijaya Karya (Persero) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara dibawah naungan Kementerian BUMN, yang mana dalam operasionalnya berbasis bisnis oriented untuk menyediakan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Sedangakan dilakukan penelitian di PT Masagi dikarenakan perusahaan tersebut adalah merupakan perusahaan swasta murni yang dalam operasionalnya berorientasi kepada bisnis untuk menyediakan perumahan bagi masyarakat kelas menengah ke atas.


UNTUK MENDAPATKAN SKRPSI KOMPLIT SILAHKAN KLIK DI SINI

SKRIPSI EKONOMI PEMBANGUNAN

BAB I


PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah


Dalam perekonomian suatu negara, tabungan dan investasi merupakan indikator yang dapat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang (developing countries) termasuk didalamnya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, memiliki dana yang cukup besar. Tetapi di sisi lain, usaha pengerahan sumber dana dalam negeri untuk membiayai pembangunan menghadapi kendala dalam pembentukan modal baik yang bersumber dari penerimaan pemerintah yaitu ekspor barang dan jasa ke luar negeri, ataupun penerimaan pemerintah melalui instrumen pajak


Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 yang kemudian menjadi krisis multidimensi berdampak kondisi Indonesia secara umum tidak hanya terhadap sektor ekonomi saja. Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sangat tajam, inflasi yang tinggi, menurunnya kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia, merupakan beberapa akibat dari krisis ekonomi tersebut. Lambat laun, dengan beberapa kali perubahan struktur politik dan penerapan kebijakan-kebijakan oleh pemerintah, kondisi Indonesia menunjukan perubahan yang lebih baik dan kondisi perekonomian yang stabil.


Di Indonesia, untuk membiayai pembangunan nasional yang mencakup investasi domestik, sumber dananya dapat bersumber dari tabungan nasional dan pinjaman luar negeri. Namun, karena terbatasnya jumlah dana serta pinjaman yang diperoleh dari luar negeri, maka diperlukan tabungan nasional yang lebih tinggi sebagai sumber dana yang utama.


Perlunya tabungan nasional ini dibuktikan dengan adanya saving-investment gap yang semakin melebar dari tahun ke tahun yang menandakan bahwa pertumbuhan investasi domestik melebihi kemampuan dalam mengakumulasi tabungan nasional. Secara umum, usaha pengerahan modal dari masyarakat dapat berupa pengerahan modal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pengklasifikasian ini didasarkan pada sumber modal yang dapat digunakan dalam pembangunan. Pengerahan modal yang bersumber dari dalam negeri berasal dari 3 sumber utama[1], yaitu : pertama, tabungan sukarela masyarakat. Kedua, tabungan pemerintah, dan ketiga tabungan paksa (forced saving or involuntary saving). Sedangkan modal yang berasal dari luar negeri yaitu melalui pinjaman resmi pemerinyah kepada lembaga-lembaga keuangan internasional seperti International Monetary Fund (IMF), Asian Development Bank (ADB), World Bank, maupun pinjaman resmi bilateral dan multilateral, juga melalui foreign direct investment (FDI).


Hollis Chenery dan beberapa penulis lainnya telah mengenalkan pendekatan 'dua-jurang' pada pembangunan ekonomi. Dasar pemikirannya, 'jurang tabungan' dan 'jurang devisa' merupakan dua kendala yang terpisah dan berdiri sendiri pada pencapaian target tingkat pertumbuhan di negara kurang maju. Chenery melihat bantuan luar negeri sebagai suatu cara untuk menutup kedua jurang tersebut dalam rangka mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan[2]. Sumitro (1994:44) menjelaskan bahwa kekurangan didalam perimbangan antara tabungan nasional dan investasi harus ditutup dengan pemasukan modal dari luar yang berasal dari tabungan oleh kalangan luar negeri.


Pada negara berkembang dan miskin, kondisi yang paling menonjol adalah belum terciptanya kondisi yang mendorong pada iklim dimana kegairahan untuk menabung dan penanaman modal menunjukan tingkat yang menggembirakan. Sistem produksi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat masih menggunakan pola tradisional. Masih terbatasnya sektor modern dan belum berfungsinya secara efektif dan efisien institusi-institusi keuangan yang disebabkan oleh pola pikir masyarakat yang masih tradisional menyebabkan pengerahan dana dari masyarakat mengalami kesulitan.


Dengan latar belakang ditetapkannya Paket Kebijakan Oktober 1988 atau yang lebih dikenal dengan "PAKTO 88", yang pokok-pokok kebijakannya berisi antara lain untuk mengerahkan dana dari masyarakat dengan cara memudahkan pembukaan kantor cabang baru, pendirian bank swasta baru, keleluasaan penyelenggaraan tabungan, dan perluasan kantor cabang bank. Setelah adanya "PAKTO 88" ini, semakin mudahlah bank didirikan dan semakin bervariasi juga bentuk-bentuk tabungan yang ditawarkan oleh bank-bank yang sudah terbentuk baik swasta maupun pemerintah. Semenjak saat itu, tabungan nasional mulai meningkat drastis. Dalam tahun-tahun sebelumnya tampak adanya kecenderungan persaingan antar berbagai negara untuk memperbesar arus investasi baik asing maupun domestik. Persaingan terutama terjadi karena kebutuhan dana yang sangat besar dan mendesak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi terutama di negara-negara berkembang.


Indonesia terbuka secara resmi dan efektif terhadap penanaman modal sejak tahun 1967 ketika pemerintah orde baru memberlakukan undang-undang Penanaman Modal Asing yang diikuti dengan undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri tahun 1968. Selanjutnya, Indonesia mengalami periode pasang surut dalam penerimaan arus modal investasi, kebijakan devaluasi rupiah tahun 1983 mempengaruhi tingkat pertumbuhan investasi secara total maupun sektoral. Tahun 1991 ketika terjadi gebrakan Sumarlin II (tight money policy) yaitu kebijakan yang dimaksudkan untuk mengontrol tingkat inflasi, menjaga defisit neraca transaksi berjalan agar tidak melebihi batas yang masih bisa diterima, mengawasi uang luar negeri, serta menjaga performance Indonesia dimata investor. Gebrakan ini secara tidak langsung menurunkan investasi.


Sukses tidaknya suatu negara dalam menarik arus dana investasi tidak terlepas dari berbagai faktor ekonomi dan non ekonomi. Pada dasarnya pemberian fasilitas yang sifatnya mendorong investor untuk berinvestasi seperti pembebasan pajak (tax holiday) dan kemudahan untuk mengakses bahan baku akan sangat efektif bila didukung oleh[3] :


- Negara tujuan investasi memiliki keunggulan komparatif ekonomi yang berkaitan dengan faktor-faktor produksi seperti sumber daya alam dan sumber daya manusia yang terampil dan murah.


- Nilai tukar yang relatif stabil, terutama untuk investor yang berorientasi pasar luar negeri


- Peraturan devisa di negara bersangkutan tidak menghalangi penanam modal untuk memindahkan kekayaan dan keuntungannya ke luar negeri.


- Iklim politik dan keamanan negara cukup menjamin ketentraman hidup dan keamanan usaha serta kekayaan investor.


- Iklim usaha yang menunjang dan mendorong penanaman modal.


- Infrastruktur yang menunjang dan memadai.


Investasi memegang peranan penting dalam meningkatkan pembangunan nasional dan sebagai salah satu komponen yang berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi.


Dari paparan latar belakang diatas dan berdasarkan fenomena yang terjadi di Indonesia, maka penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul :


" Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan


dan Investasi Swasta di Indonesia Periode 1984-2003".



1.2 Identifikasi Masalah


Penelitian ini akan membatasi permasalahan sesuai dengan paparan diatas, yaitu:



  1. Bagaimanakah pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003?

  2. Bagaimanakah pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi investasi swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003?

  3. Bagaimana pengaruh dari krisis ekonomi tahun 1997 terhadap tingkat tabungan dan investasi swasta di Indonesia periode 1984-2003?



1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan :



  1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003.

  2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi investasi swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003.

  3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari krisis ekonomi terhadap tabungan dan investasi swasta di Indonesia periode 1984-2003.



1.4 Kegunaan Penelitian


Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dengan masalah tersebut di atas. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan literatur dan referensi untuk pengembangan selanjutnya dalam cabang ilmu ekonomi makro.



UNTUK MENDAPATKAN SKRPSI KOMPLIT SILAHKAN KLIK DI SINI




SKRIPSI ILMU KEPERAWATAN

BAB I PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang


Keluarga merupakan orang terdekat dari seseorang yang mengalami gangguan kesehatan / dalam keadaan sakit. Keluarga juga merupakan salah satu indikator dalam masyarakat apakah masyarakat sehat atau sakit (Efendi , 1998). Peran / tugas keluarga dalam kesehatan yang dikembangkan oleh ilmu keperawatan dalam hal ini adalah ilmu kesehatan masyarakat (Komunitas) sangatlah mempunyai arti dalam peningkatan dalam peran / tugas keluarga itu sendiri. Perawat diharapkan mampu meningkatkan peran keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan keluarga. (Friedman, ed 3, 1998 : 145)


Peran keluarga dalam mengenal masalah kesehatan yaitu mampu mengambil keputusan dalam kesehatan, Ikut merawat anggota keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan, dan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada sangatlah penting dalam mengatasi kecemasan klien.(Friedman, 2003 : 146).


Penanggulangan Injecting Drug User (IDU) memang cukup sulit, perlu diperhatikan dari berbagai aspek, misalnya ketersediaan sarana kesehatan publik, hukuman bagi pengguna, pengedar dan berbagai cara yang lain. Cara yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan terkecil bagi seorang IDU. Kasih sayang orang tua akan menyebabkan pengguna merasa bahwa dirinya masih ada yang memperhatikan, merasa dihargai dan dibutuhkan. Dengan kasih sayang orang tua diharapkan menjadi manusia yang dapat diterima oleh masyarakat (Abu ahmadi, 2002 : 106).


Kesuma merupakan perkumpulan atau paguyuban, bukan organisasi hirarkis dan berbadan hukum. Kesuma membawa keselarasan dan kebersamaan. Motto dan semangat itu yang diciptakan. Menurut Mur achmadi, dari dinas kesehatan Kalimantan barat, "mereka sangat berperan dalam kerja pendampingan kepada orang hidup dengan AIDS (OHIDA). Kesuma mencoba memotivasi, bahwa hidup seseorang tidak berakhir ketika terinfeksi HIV. Perjuangan Kesuma menghilangkan berbagai stigma, sudah cukup terbukti di lapangan. Kesuma ingin menyakinkan masyarakat, bahwa orang tidak boleh membedakan ODHA. Entah




itu dari segi pelayanan, maupun keberadaannya. Hingga kini, keberadaan Kesuma sebagai kelompok dukungan bagi keluarga ODHA, telah banyak dirasakan manfaatnya. Meski demikian, keberadaan Kesuma masih sebatas orang tertentu saja yang mengetahui. sebagian besar orang tua mendukung penanganan terhadap HIV/AIDS. Cuma, orang tua tidak sepenuhnya tahu tentang hal itu. Seorang anak tidak mungkin memecahkan masalahnya sendiri. Anak butuh bantuan. Dan bantuan yang pertama kali diminta adalah dari orang tua atau keluarga.


Injecting Drug User (IDU) merupakan salah satu jenis pengguna narkoba yang lebih spesifik. Komunitas ini hanya menggunakan narkoba dengan cara disuntikkan, karena itu lebih berisiko terkena berbagai macam penyakit menular dibandingkan dengan pengguna narkoba lainnya. Hal ini disebabkan perilaku IDU yang sering berbagi jarum antar sesama IDU (needle sharing), sehingga akan lebih mudah tertular penyakit, misalnya Hepatitis C bahkan HIV-AIDS.


Data pada pengguna narkoba suntik di Asia sebanyak 1.3 - 2 juta jiwa dan dari total kasus yang ada, lebih dari 1 juta jiwa adalah pengguna narkoba suntik (IDU). Dimana 19% dari total kasus yang ada terinfeksi HIV/AIDS.


Angka pengguna narkoba di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Menurut perkiraan jumlah pengguna narkoba di Indonesia berkisar antara 1,3 sampai dengan 3 juta jiwa, dan didominasi kota besar. Diperkirakan jumlah IDU di Indonesia sekitar 600 ribu sampai dengan 1 juta jiwa. Pengguna IDU rata-rata berumur antara 16-25 tahun.


Kejadian IDU selalu berhubungan dengan kejadian HIV/AIDS ( ODHA ). Data nasional berdasarkan Departemen Kesehatan RI menunjukkan penurunan tingkat resiko penularan HIV/AIDS lewat jalur hubungan seksual. Bila sebelum tahun 1999 persentase penularan lewat jalur tersebut sebesar 80 persen, tahun 1999 menurun menjadi 50 persen dan tahun 2002 menurun lagi menjadi 48 persen. Sementara kasus‑kasus HIV/AIDS pada pemakai narkoba, atau IDU (Intravenous Drug Users) justru makin meningkat. Disebutkan, kasus‑kasus HIV/AIDS pada pemakai narkoba menurun dalam kurun enam tahun terakhir dan cenderung stabil. Berkebalikan dengan persentase IDU. Bila pada tahun 1987 ‑ Juni 1999 hanya ditemukan 6 kasus di kalangan IDU, Desember 1999 terjadi peningkatan 25 kasus, yang meningkat lagi menjadi 780 kasus tahun 2002. Dan pada Desember 2005 tercatat 3.719 kasus IDU. Dampak IDU tersebut tentu saja sangat erat dengan HIV/AIDS. Jumlah penderita HIV/AIDS yang tertular lewat berbagai jalur, hubungan seksual, pemakaian jarum suntik, transfusi darah hingga tahun 2005 mencapai 4.244 orang untuk HIV dan 5.321 orang (AIDS). Diperkirakan kasus‑kasus tersebut masih permukaan, realitanya masih lebih banyak kasus yang belum terungkap. Bahkan Departemen Kesehatan memperkirakan pada tahun 2007 kasus IDU yang tercatat setidaknya ada 90.000‑130.000 kasus, dimana sebagian besar tidak melaporkan. ( Bernas, 2007 )


Saat ini, Jatim menduduki posisi ketiga sebagai provinsi yang jumlah orang hidup dengan HIV-nya terbanyak setelah DKI Jakarta dan Papua. Walau dalam data yang di dapat dari Depkes RI masih menduduki perangkat ketiga, jumlah penderita di Jatim memang cenderung meningkat dan bisa mengalahkan Jawa Barat dalam jumlah. Selama tahun 2006, terdapat 863 kasus AIDS, 475 kasus HIV dan 258 diantaranya meninggal (Depkes RI).


Data dari RSJ Menur Surabaya memperlihatkan bahwa dari 17 pasien yang ada diruang Napza, sebanyak 76.5% (13 pasien) adalah pengguna (IDU). Pada pasien yang baru masuk rumah sakit rata-rata mengalami stress psikologis (kecemasan). Sehingga peran keluarga sangatlah penting dalam membantu untuk mengurangi rasa cemas yang di alami pasien, dan hal itu sangat membantu dalam proses pengobatan/terapi pasien (Rekam Medik RSJ Menur Surabaya, 2008).


MayoritasIDUmenyuntik dirinya secaraintravena, tetapi juga ditemukan secara subkutan, dan intramuskular. Jenis obat yang sering disuntikkan IDU adalah heroin, kokain, dan juga sejenis amphetamines, buprenorphine, benzodiazepines, danbarbiturate. Permasalahan IDU selain penyuntik akan mengalami berbagai reaksi sistemik akibat obat yang disuntikkannya, IDU juga dapat menularkan berbagai penyakit melalui jarum yang dipakai bergantian.


Masih belum jelas seberapa besar pengaruh peran keluarga terhadap proses penyembuhan IDU, serta belum jelas juga jika pengaruh peran keluarga ini dapat digunakan secara umum.


Jadi penulis berusaha mencari hubungan peran keluarga terhadap tingkat kecemasan Injecting Drug User ( IDU ) usia 15-35 tahun.



1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut :


Apakah ada hubungan peran keluarga terhadap tingkat kecemasan Injecting Drug User ( IDU ) usia 15-35 tahun ?



1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan umum


Menganalisis peran keluarga terhadap tingkat kecemasan Injecting Drug User ( IDU ) usia 15-35 tahun.


1.3.2 Tujuan khusus


1. Mengidentifikasi peran keluarga.


2. Mengidentifikasi tingkat kecemasan Injecting Drug User (IDU) usia 15-35 tahun.


3. Menganalisa peran keluarga terhadap tingkat kecemasan Injecting Drug User ( IDU ) usia 15-35 tahun.


1.4 Manfaat penulisan


Sesuai dengan latar belakang perumusan masalah dan tujuan penulisan yang hendak dicapai, maka manfaat yang dapat diharapakan dari penelitian ini adalah


1) Bagi Peneliti


Dapat menambah wawasan dan pemahaman tentang peran keluarga terhadap tingkat kecemasan Injecting Drug User (IDU) usia 15-35 tahun.


2) Bagi Institusi Pendidikan


Digunakan sebagai sumber informasi, khasanah wacana kepustakaan serta dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.


3) Bagi Profesi


Dapat memberikan sumbangan ilmu bagi ilmu keperawatan.


4) Bagi keluarga


Memberi informasi kepada orang tua tentang peran keluarga dan perhatian orang tua kepada anak.



UNTUK MENDAPATKAN SKRPSI KOMPLIT SILAHKAN KLIK DI SINI

SKRIPSI KEPERAWATAN

BAB I


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah


Angka Kematian Ibu berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan


ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama


untuk ibu hamil, melahirkan dan masa nifas (Permata, 2002). Derajat kesehatan


penduduk secara optimal dapat pula diukur dengan indikator antara lain angka


kematian ibu, angka kematian bayi, dan tingkat kesuburan penduduk yang sangat


erat kaitannya dengan pelayanan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan KB


(Keluarga Berencana) (Ambarwati, 2006).


Berdasarkan data WHO (1999) sekitar 80 % kematian maternal merupakan


akibat meningkatnya komplikasi selama kehamilan, persalinan dan setelah


melahirkan (Yulianto, 2004). Di dunia, setiap menit seorang perempuan


meninggal karena komplikasi terkait dengan kehamilan dan persalinan. Di


Indonesia, dua orang ibu meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan


nifas (Universitas Indonesia, 2005). Berdasarkan SKRT (2003), Angka Kematian


Ibu (AKI) Indonesia mencapai 307/ 100.000 kelahiran hidup, hal ini berbeda


sekali dengan Singapura yang berhasil menekan angka kematian ibu menjadi 6 per


seratus ribu kelahiran hidup saja (Depkes, 1998). Data lain menyebutkan bahwa


AKI di Indonesia masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negaranegara


anggota ASEAN. Risiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia


adalah 1 dari 65, sedangkan di Thailand menunjukkan angka 1 dari 1.100


(Bappenas, 2007).


Dalam menanggulangi hal tersebut, berbagai usaha untuk menurunkan AKI


telah dilakukan, diantaranya: 1) Program


safe motherhood (1998); 2) Gerakan


Sayang Ibu (1996); 3) Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman/ Making


Pragnancy Saver (MPS) dan 4) Kerjasama POGI, IDAI, IDI, dan Depkes 2002


oleh yayasan Bina Pustaka yang menerbitkan Buku Panduan Praktis Pelayanan


Kesehatan Maternal dan Neonatal. Berbagai program itu telah dilaksanakan akan


tetapi pada kenyataannya AKI baru bisa diturunkan menjadi 307/ 100.000 pada


tahun 2003. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa angka tersebut


mengalami penurunan lagi menjadi 290,8 per seratus ribu kelahiran hidup


pada tahun 2005 (Jakir, 2006).


Pada tahun 2003 angka kematian ibu di Yogyakarta mencapai 110/100.000


kelahiran hidup. Data yang tercatat dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa


Yogyakarta bahwa kematian maternal tahun 2004 di Yogyakarta terdapat 33 kasus


yaitu Kotamadya Yogyakarta 5 kasus, Bantul 8 kasus, Kulonprogo 4 kasus,


Gunungkidul 4 kasus dan Sleman 12 kasus (Purwantiningsih, 2006). Data tersebut


semakin menguatkan perlunya penanganan serius bagi kematian maternal.


Berbagai faktor penyebab tingginya AKI seringkali dijumpai secara


bersamaan dan tumpang tindih. Salah satu faktor yang menyebabkan AKI masih


tinggi diantaranya adalah mutu pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan ini


berkaitan langsung dengan penanganan kasus AKI yang dinamakan trias


terlambat, diantaranya:


1. Terlambat deteksi bahaya dini selama kehamilan, persalinan dan nifas, serta


dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu


dan neonatal.


2. Terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan karena kondisi geografis dan


sulitnya trasportasi.


3. Terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai di tempat


rujukan.


Telah diketahui bahwa 3 penyebab utama kematian ibu di bidang obstetri


adalah perdarahan 45%, infeksi 15 % dan hipertensi dalam kehamilan 13 %


(SKRT 1995). Sejalan dengan data tersebut, kebanyakan kematian maternal terjadi


3 hari sehabis melahirkan karena terserang infeksi. Oleh karena itu, baik ibu,


keluarga maupun tenaga kesehatan perlu belajar hal-hal yang berkaitan dengan


komplikasi postpartum ini (Roeshadi, 2006).


WHO telah merekomendasikan program Making Pregnancy Safer yang salah


satu fokus penanganannya pada pencegahan perdarahan postpartum. Perdarahan


postpartum ini adalah penyebab utama kematian maternal. Tidak kurang


seperempat dari seluruh kematian maternal disebabkan oleh perdarahan (WHO,


2006). Di negara berkembang, perempuan cenderung lebih mendapat perawatan


antenatal atau perawatan sebelum melahirkan dibandingkan mendapat perawatan


kebidanan yang seharusnya diterima selama persalinan dan pasca persalinan.


Nyatanya, lebih dari separuh jumlah seluruh kematian ibu terjadi dalam waktu 24


jam setelah melahirkan, sebagian besar karena terlalu banyak mengeluarkan


darah. Perdarahan hebat adalah penyebab paling utama dari kematian ibu di


seluruh dunia. Sebenarnya perdarahan postpartum dini seringkali dapat ditangani


dengan perawatan dasar, namun keterlambatan dapat mengakibatkan komplikasi


lebih lanjut sehingga memerlukan pelayanan yang komperhensif. Pencegahan,


diagnosis dan penanganan pada jam-jam pertama sangatlah penting untuk


mengatasi perdarahan. Disamping itu risiko-risiko lain seperti infeksi dan


komplikasi juga dapat mengancam jiwa (Shane, 2002).


Periode postpartum merupakan masa untuk beradaptasi dengan perubahan


fisik dan psikologis. Serta salah satu masa untuk mengadopsi peran ibu (Bobak et


al, 2004). Mengingat pentingnya adaptasi pada masa ini maka perawat


diharapkan bisa memberi kontribusi dengan menyediakan pelayanan keperawatan


yang mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan pada ibu postpartum ini. Salah


satu cara yang bisa dilakukan perawat adalah dengan mengoptimalkan fungsinya


sebagai edukator dengan memberikan pengetahuan tentang perawatan ibu dan


bayi kepada ibu postpartum. Permasalahan ibu postpartum ini sebetulnya bisa


dicegah, salah satunya dengan memberikan penyuluhan yang berkesinambungan


pada ibu postpartum. Kurangnya pengetahuan ibu postpartum tentang perawatan


ibu dan bayi, dapat ditopang dengan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan


khususnya perawat dan bidan tentang asuhan keperawatan ibu postpartum.


Menurut hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap perawat dan bidan


di bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada tanggal 30 April 2007


bahwa program pelatihan ibu postpartum jarang dilaksanakan dan tidak dilakukan


secara berkesinambungan karena jumlah perawat yang tidak memadai dan beban


kerja yang ada. RSUP Dr. Sardjito sebetulnya pernah mengadakan program


pelatihan yang melibatkan ibu postpartum yaitu program pelatihan breast care.


Akan tetapi program tersebut sudah tidak dilaksanakan sejak tiga tahun yang lalu.


Menurut Notoatmojo (1997) perubahan perilaku baru/ adopsi perilaku yang


didasari oleh pengetahuan akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya


perilaku yang tidak didasarkan oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan


berlangsung lama. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pengetahuan


seseorang salah satunya adalah media. Media yang memiliki jumlah dan kualitas


yang cukup memberi kesempatan pembelajar untuk menigkatkan pemahaman


dengan cukup baik. Selain itu media yang ditawarkan harus memperhatikan minat


yang beragam dan bahan utama tersebut tidak boleh dinomorduakan (Suparno,


2001).


Salah satu media yang menjanjikan berbagai kelebihan adalah penggunaan


video pendidikan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Hal ini sesuai


dengan berbagai alasan sebagai berikut:


1. Video mampu menggambarkan keadaan nyata/ menyerupai keadaan


sebenarnya.


2. Video bersifat dinamis sehingga merangsang rasa dan mudah memberi kesan.


3. Video memungkinkan penerangan berulang-ulang.


4. Penggunaan media ini juga mempercepat kadar pemahaman seseorang.


5. Video mampu meraih emosi seseorang sehingga seseorang tidak langsung


mengubah sikap seseorang dengan lebih mudah.


Disamping itu percepatan pembelajaran dapat pula diupayakan dengan


menggunakan sistem modul. Modul sebagai alat dan sarana pembelajaran yang


berisi materi, metode, dan cara yang sistematis untuk mencapai kompetensi yang


diharapkan (Depdiknas, 2003)


Berawal dari latar belakang ini peneliti termotivasi untuk turut serta


membantu peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan khususnya perawat dan


bidan dengan melakukan penelitian "Pengaruh Penggunaan Media Bantu VCD


dan Modul terhadap Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Asuhan Keperawatan


pada Ibu Postpartum di Bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito".


UNTUK MENDAPATKAN SKRPSI KOMPLIT SILAHKAN KLIK DI SINI

SKRIPSI MANAJEMEN EKONOMI

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang


Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan pertumbuhan industri perbankan yang ada dalam negara tersebut. Semakin berkembang industri perbankan maka semakin baik pula pertumbuhan ekonomi negara itu sendiri. Salah satu usaha jasa yang menawarkan berbagai kebutuhan masyarakat akan jasa pelayanan keuangan, maka usaha jasa perbankan selain mengedepankan profesionalisme dalam pelayanan kepada masyarakat sebagai nasabah, juga harus mengedepankan kepercayaan, karena dapat dikatakan bahwa industri perbankan adalah merupakan industri yang menjual kepercayaan kepada masyarakat sebagai nasabahnya.


Masyarakat sebagai konsumen atau pasar yang dituju oleh industri perbankan memiliki berbagai pertimbangan dalam memilih usaha jasa perbankan yang akan digunakannya, hal tersebut dapat dilihat dari faktor tingkat bunga yang ditawarkan oleh perbankan kepada masyarakat, tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh masyarakat dalam hal penyimpanan uang pada bank tersebut, juga mengenai kemudahan dalam memperoleh pinjaman.


Faktor-faktor tersebut yang menjadi dasar pertimbangan masyarakat untuk memilih jasa perbankan, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat membentuk loyalitas pada diri masyarakat akan bank yang dijadikan sebagai pilihan yang dipercayainya.


Keberadaan jasa perbankan dalam masyarakat memang lebih menguntungkan terutama pada sektor perekonomian, di mana para pelaku ekonomi lebih leluasa dalam menjalankan proses kegiatan ekonominya untuk menunjang kelangsungan hidup. Usaha jasa perbankan dalam masyarakat yang mengedepankan pelayanan yang baik demi memperoleh kepercayaan dari masyarakat sebagai nasabahnya akan menghadapi berbagai macam keadaan atau pandangan yang timbul dari masyarakat sebagai ungkapan kepuasan atau ketidakpuasannya akan pelayanan yang diterimanya dari pihak bank yang dipercayainya.


Di kota Palu dan sekitarnya telah berdiri beberapa bank yang menawarkan jasa perbankan, baik bank yang dimiliki oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta. Di antaranya Bank Rakyat Indonesia, (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri dan lain sebagainya. Kehadiran bank-bank tersebut, secara ekonomi memberikan keuntungan kepada masyarakat umum khususnya para pelaku ekonomi.


Menyadari akan berbagai hal di atas maka dalam penelitian ini peneliti tertarik untuk memilih bank mandiri sebagai objek penelitian, dengan maksud untuk mengetahui seperti apa dan bagaimana loyalitas nasabah terhadap pelayanan pihak perbankan dalam hal ini Bank Mandiri Cabang Hasanuddin Palu. Karenanya perlu dilakukan kajian lebih mendalam mengenai kualitas pelayanan dan loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin Kota Palu melalui penelitian



1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah:



  1. Apakah variabel kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, emphaty) secara serempak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin Palu?

  2. Variabel mana yang relatif lebih dominan berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin Palu?


1.3 Tujuan dan Kegunaan penelitian


1.3.1 Tujuan Penelitian


a. Untuk menget­ahui dan mengukur apakah variabel kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, emphaty) berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin di Kota Palu.


b. Untuk mengetahui dan mengukur variabel mana yang relatif lebih dominan berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin di Kota Palu.


1.3.2 Kegunaan Penelitian


a. Sebagai sumbangan pemikiran kepada pihak perbankan dalam menentukan kebijakan yang tepat dalam melayani nasabah yang akan menggunakan jasa yang di tawarkan.


b. Sebagai pengalaman yang cukup berharga bagi peneliti untuk mengimplementasikan berbagai teori yang berkaitan dengan penelitian.


c. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana (S1) Jurusan Manajemen Pada Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako.


1.4 Sistimatika Penulisan


Penulisan skripsi ini terbagi dari 6 bab di mana garis besarnya adalah sebagai berikut:


Bab Pertama, merupakan bab pendahuluan, terdiri atas latar belakang penelitian, permasalahan, tujuan dan kegunaan penelitian serta sistimatika penelitian.


Bab Kedua, landasan teori terdiri atas pengertian pemasaran dan manajemen pemasaran, pengertian bank, pengertian perilaku konsumen, pengertian pelayanan, pengertian kualitas jasa, pengertian kualitas pelayanan, persepsi konsumen.


Bab Ketiga, metode penelitian, terdiri dari tipe penelitian, jenis dan sumber data, tehnik pengumpulan data, metode penarikan sampel, definisi oprasional variabel, pengujian instrumen penelitian dan metode analisis.


Bab Keempat, gambaran umum perusahaan yang akan memuat tentang sejarah singkat, tugas dan fungsi dalam struktur.


Bab Kelima, yaitu hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari pengujian instrumen penelitian, uji asumsi klasik, serta pengujian hipotesis penelitian.


Bab Keenam, merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran.


UNTUK MENDAPATKAN SKRPSI KOMPLIT SILAHKAN KLIK DI SINI

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More